Tampilkan postingan dengan label kefamenanu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kefamenanu. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 September 2008

Karnaval, Ikrar Dan Peluncuran Logo Emas Mewarnai Penutupan Pameran Pembangunan Kefamenanu

Kefamenanu, pameran pembangunan, seni dan budaya, dalam rangka memperingati 86 tahun lahirnya Kota Kefamenanu dan 100 tahun terbentuknya Kabupaten Timor Tengah Utara (Onder af deeling Noord Midden Timor), akhirnya berakhir, setelah semalam, Selasa (22/9), ditutup oleh Bupati Timor Tengah Utara, Gabriel Manek.
Penutupan pameran pembangunan yang telah berlangsung sepanjang 12 hari, sejak 10 September itu dihadiri oleh para undangan dan ribuan masyarakat Timor Tengah Utara, yang memadati lapangan Oemanu.
Penutupan yang sekaligus juga ditandai dengan peluncuran Logo Emas Kabupaten Timor Tengah Utara dan pembacaan naskah Ikrar Emas Kabupaten Timor Tengah Utara oleh Gabriel Manek yang merupakan tekad dan janji dari perumusan kehendak masyarakat Timor Tengah Utara, untuk menjadikan Kabupaten Timor Tengah Utara sebagai rumah tinggal bersama bagi semua etnis yang berada di dalamnya.
Prosesi penutupan itu dimulai dengan pelepasan karnaval seni dan budaya oleh Gabriel Manek, dari depan rumah jabatan bupati, sederet disisinya juga masih tegak berdiri bangunan bersejarah peninggalan Belanda, yakni kantor Onder afdeeling Noord Midden Timor, yang dibangun pada tahun 1923, setahun setelah berpindahnya pusat pemerintahan Belanda, Onder af deeling Noord Midden Timor, yang sebelumya, sejak 1908 beribukota Noetoko.
Karnaval yang diperkirakan, diikuti oleh hampir dua ribuan masyarakat sekabupaten Timor Tengah Utara dengan berbagai kelengkapan seni dan budaya itu, melewati ruas jalan Kartini, El Tari, A. yani dan P. B. Sudirman dan berakhir di lapangan Oemanu, depan kantor Bupati Timor Tengah Utara.
Pantauan kami, sepanjang jalan yang dilalui karnaval, ribuan masyarakat telah berdiri menanti dengan sabar, penuh antusias untuk menikmati berbagai atraksi, suguhan-suguhan yang cukup memikat dari keberagaman seni dan budaya, yang ditampikan dalam pakaian adat, seni musik maupun tarian, dari berbagai etnis di Indonesia, yang mendiami Kabupaten Timor Tengah Utara.
Etnis Ende, misalnya, sangat memukau dengan tarian Ja'i-nya, etnis Alor dengan tarian semangat perangnya, maupun etnis Bali dengan Legong topeng-nya. Demikian juga suku-suku lainnya, seperti Sabu, Belu, Rote, Batak, Jawa maupun suku-suku asli sekabupaten Timor Tengah Utara, juga turut menyemarakan parade seni budaya tersebut.

Jumat, 12 September 2008

Pameran Pembangunan, Seni dan Budaya Kefamenanu

Kefamenanu, kamis (11/9). Antusiasme masyarakat Kota Kefamenanu dan sekitarnya untuk mengunjungi pameran pembangunan, seni dan kebudayaan benar-benar sangat luar biasa.
Seperti yang penulis saksikan, malam kedua, di lapangan Oemanu, depan alun-alun kantor Bupati Kabupaten Timor Tengah Utara, benar-benar tumpah ruah oleh pengunjung dari berbagai kalangan.

Kemarin, Rabu (10/9), Bupati Timor Tangah Utara, Gabriel Manek, telah menyatakan dengan resmi dimulainya pameran pembangunan, seni, dan kebudayaan, dalam rangka menyambut hari ulang tahun Kota Kefamenanu (22/9), yang di tandai dengan pemukulan gong dan pembakaran kembang api bersama para Muspida Kabupaten Timor Tengah Utara.

Pameran akan berlangsung selama hampir dua pekan hingga 22 September, nanti, yang bertepatan dengan hut kota Kefamenanu, yang ke 86.

Kamis, 11 September 2008

Korban Kecelakaan Kerja, Niko Kono, lebih 18 tahun bekerja, cuma digaji Rp. 350.000, per bulan

Kefamenanu, Rabu (10/9).
Niko Kono (51), Asal desa Nian kecamatan Miomaffo Tengah, Kabupaten Timor Tengah Utara, karyawan CV Remaja Karya, kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara, yang tewas dalam kecelakaan kerja, tenyata hanya digaji sebesar Rp.350.000, per bulan, padahal ia telah bekerja diatas delapan belas tahun. Hal itu diungkap Kresensia Kono, anak pertama korban saat melaporkan kejadian kecelakaan kerja tersebut bersama Kepala Desa setempat, kepada Drs. Burhan Venansius, Kasi Informasi Pasar Kerja dan Penempatan Tenaga Kerja, Dinas Nakertrans Kabupaten Timor Tengah Utara, kemaren, Selasa (9/9).
Seperti yang diberitakan Koran Online Kabar Indonesia, kamis (6/9), menyebutkan bahwa, korban tewas saat ia sedang memperbaiki sistem hidrolik pengangkat bak truk Toyota Diesel, ketika tiba-tiba saja sistim hidroliknya loss, seketika saja bak truk besi itu jatuh menimpa tubuhnya sehingga ia tergencet antara bak dan casis truk, yang menyebabkan korban tewas seketika itu juga.

Venansius mengatakan bahwa Perusahan Tersebut kemungkinan tidak mengikut sertakan tenaga kerjanya sesuai amanah Undang-undang Republik Indonesia No. 3 Thn 1992, Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja, sehingga peristiwa kecelakaan kerja pada lokasi proyek tersebut tidak dilaporkan.

Sementara data yang berhasil dihimpun lewat wawancara terhadap beberapa orang yang mengenal korban menyebutkan bahwa korban telah bekerja lebih dari 18 tahun pada pemilik perusahan tersebut sebagai sopir sekaligus sebagai teknisi mesin untuk setiap kendaraan yang disopirinya.

Beberapa sumber menyebutkan beberapa tahun terakhir almarhum sekaligus menangani 3 truk Toyota diesel yang selama ini dipercayakan oleh majikannya, yang ditempatkan di rumah almarhum.

seperti yang wartawan saksikan, di samping rumahnya memang tergeletak satu buah rangka sasis bus pabrikan Mercedes, lengkap mesin dan ban-bannya, namun tanpa body. Menurut berbagai sumber yang di temui, almarhum telah menjadi sopir bus ini sejak tahun 1990. Sedangkan di depan rumahnya ada satu unit truk Toyota Diesel, dua yang lainnya ada di lokasi proyek, salah satunya adalah penyebab kecelakaan itu.

Pada kesempatan itu Kresensia juga menceriterakan bahwa pimpinan perusahan tersebut telah meberikan satu buah peti mati untuk penguburan ayahnya, selain dua karung beras dan uang Rp. 100.000,.

http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=14&dn=20080910210506