Selasa, 07 Oktober 2008

Ketua Pansus RUU Pornografi Marah-marah

Email From:
Agus Hamonangan

Laporan wartawan Kompas.com Inggried Dwi Wedhaswary

JAKARTA, SELASA - Ketua Panitia Khusus RUU Pornografi Balkan Kaplale
langsung 'naik darah' tanpa sebab yang jelas, saat dikonfirmasi
tentang rencana Pansus RUU Pornografi melakukan uji publik di empat
daerah yang kecenderungannya menolak RUU tersebut.

Balkan langsung marah-marah dalam bahasa yang tak jelas bahasa apa,
ketika disebutkan daerah-daerah yang disebut menolak. Daerah-daerah
tersebut adalah Denpasar, Kupang, Jayapura, dan Manado.

"Nggak ah, mana ada yang menolak. Saya menerima 267 SMS (pesan
singkat), 99 persen menerima, setuju-setuju saja," kata Balkan seusai
bertemu Ketua DPR Agung Laksono, Selasa (7/10) siang.

Tiba-tiba, dengan nada suara tinggi dan berteriak dia berkata, "Jangan
apa-apa Papua, apa-apa Papua. Saya ini orang Papua!," ujarnya sambil
terus mengomel dan masuk ke dalam lift meninggalkan wartawan. Padahal,
sesaat sebelumnya Wakil Ketua Pansus RUU Pornografi Agung Sasongko
mengatakan, selain di empat daerah yang mendukung, uji publik juga
akan dilakukan di Denpasar, Kupang, Jayapura, dan Manado, daerah yang
selama ini menolak keras lahirnya RUU Pornografi.

"Dengan adanya uji di daerah yang menolak akan menjadi pembanding,
yang menerima dan menolak masukannya gimana, sehingga proses draftnya
lebih bagus. Kalau sekarang kan hanya di daerah-daerah yang cenderung
menerima," kata Agung.

Kapan uji publik akan dilakukan, Agung menyatakan belum ditentukan.

http://www.kompas.com/read/xml/2008/10/07/14505116/ketua.pansus.ruu.pornografi.marah-marah

Rabu, 01 Oktober 2008

Mengapa FPI Memakai Jubah Agama Dalam Gerakan-Gerakan Yang Berbau Kekerasan?

Hanya sebuah pertanyaan
di:
http://pormadi.wordpress.com/2008/09/26/aksi-pelemparan-batu-oleh-fpi/#comment-12384
Sangat disayangkan, fpi seakan-akan ingin terdepan dalam mencitrakan Islam sebagai agama yang berlandaskan kekerasan. Apakah fpi ini sebuah fenomena gerakan penghancuran Islam dengan cara menggunting dalam lipatan? Ataukah mereka demikian karena berharap mendapat publikasi gratis, tanpa biaya sepersen pun? Atau berharap mendapat kucuran dana dari lembaga-lembaga anti damai yang hanya bisa eksis dengan gerakan-gerakan teror? Sayangnya mengapa agama yang dipakai? Sayangnya mengapa gerakan-gerakan kekerasan fpi justru mendapat simpati yang luas? Apakah ini pribadi, watak dan impian kita?
Orang-orang seperti Gus Dur yang membuat wangi semerbak Islam justru selalu dicurigai, selalu dituduh anti Islam, mengapa?
Dulu ada propaganda anti PKI, karena gerakan-gerakan mereka penuh kekerasan, penuh pemaksaan, pembunuhan dan sebagainya, apakah fpi terinspirasi dari itu?
Sekali-lagi, mengapa agama yang dipakai?

Minggu, 28 September 2008

In Memorial Ria

28 September 2007, setahun yang lalu, seseorang yang paling aku sayangi, dia pergi untuk selamanya, meninggalkan aku.


Ria..
Setahun yang lalu, kamu berjuang, gigih melawan penderitaan, sakit, yang mungkin teramat sepele. Namun karena kelalaian dokter dalam mengdiagnosa, plus, juga karena kelalaian petugas puskesmas dalam memberikan obat, akhirnya membuat dirimu, seorang diri harus melawan penyakit itu. Aku tau, kamu bahkan, juga terpaksa harus berhadapan dengan kesalahan obat yang diberikan oleh dokter, yang turut menyulitkan perjuanganmu.
Memang, akhirnya kamu kalah, setelah empat hari berjuang dengan kegigihan yang luar biasa.
Ria, walaupun baru sembilan bulan kurang dua hari, umurmu saat itu, namun kamu hebat dalam mempertahankan dirimu dari kekejaman diare, serta komplikasi hebat karena kesalahan dokter itu.
Ria, aku kagum, melihat betapa gigihnya kamu, yang mau terus menetek pada ibumu, bahkan yang mau terus saja menerima suapan air gula garam yang disuapkan padamu, bahkan marah, protes, tanpa tangis saat ibumu melepaskan teteknya. Kamu seakan-akan mengerti, bahwa tubuhmu membutuhkan cairan yang banyak demi menggantikan cairan tubuh akibat dehidrasi karena diare.
Bahkan saat-saat tubuhmu megalami kekejangan pun, kamu masih terus kuat menghisap asi, sekalipun tubuhmu,dan mulutmu mengalami kekejangan.

Kamu memang luar biasa, dalam mempertahankan hidupmu, seakan-akan kamu memahami, bahwa kami sangat membutuhkanmu.

Ria andai kamu bisa mengontrol gerak detak jantungmu, walaupun sedikit saja, kamu pasti tidak akan pernah kalah melawan diare dan komplikasi karena obat yang laknat itu, walaupun nanti, perjalanan rujukan ke Rumah Sakit Umum Daerah Atambua, yang membutuhkan perjalanan yang melelahkan, lebih kurang empat jam lamanya.
Namun saat dalam perjalanan, dengan ambulance, tanpa bantuan infus, yang baru sejam itu, saat itulah saat penghabisan.

Mamamu berceritera, diakhir hembusan nafasmu pun kamu masih angkat tangan dan mengayunkan seperti biasa saat kamu melambaikan salam pada orang yang menggodamu, kamu masih memanggil mama-papa..

Selamat jalan Ria..

Bila bisa, jagalah mamamu, papamu, kakak-kakakmu serta saudara kembarmu, Rio, dalam perjuangan hidup ini..

Ria, maafkan kami yang tidak mampu membantumu.
Juga dokter, perawat, petugas puskesmas, maupun kepala puskesmas kecamatan Sasi Tamean, Kabupaten Belu, yang tidak cepat tanggap dan salah dalam menanganimu.

Selamat jalan, kamu akan menjadi kenangan indah kami, karena kamu cerdas, sabar dan selalu penuh canda-ceria..

Selamat jalan, kamu akan tetap hidup di hati ini..

Jumat, 26 September 2008

Karnaval, Ikrar Dan Peluncuran Logo Emas Mewarnai Penutupan Pameran Pembangunan Kefamenanu

Kefamenanu, pameran pembangunan, seni dan budaya, dalam rangka memperingati 86 tahun lahirnya Kota Kefamenanu dan 100 tahun terbentuknya Kabupaten Timor Tengah Utara (Onder af deeling Noord Midden Timor), akhirnya berakhir, setelah semalam, Selasa (22/9), ditutup oleh Bupati Timor Tengah Utara, Gabriel Manek.
Penutupan pameran pembangunan yang telah berlangsung sepanjang 12 hari, sejak 10 September itu dihadiri oleh para undangan dan ribuan masyarakat Timor Tengah Utara, yang memadati lapangan Oemanu.
Penutupan yang sekaligus juga ditandai dengan peluncuran Logo Emas Kabupaten Timor Tengah Utara dan pembacaan naskah Ikrar Emas Kabupaten Timor Tengah Utara oleh Gabriel Manek yang merupakan tekad dan janji dari perumusan kehendak masyarakat Timor Tengah Utara, untuk menjadikan Kabupaten Timor Tengah Utara sebagai rumah tinggal bersama bagi semua etnis yang berada di dalamnya.
Prosesi penutupan itu dimulai dengan pelepasan karnaval seni dan budaya oleh Gabriel Manek, dari depan rumah jabatan bupati, sederet disisinya juga masih tegak berdiri bangunan bersejarah peninggalan Belanda, yakni kantor Onder afdeeling Noord Midden Timor, yang dibangun pada tahun 1923, setahun setelah berpindahnya pusat pemerintahan Belanda, Onder af deeling Noord Midden Timor, yang sebelumya, sejak 1908 beribukota Noetoko.
Karnaval yang diperkirakan, diikuti oleh hampir dua ribuan masyarakat sekabupaten Timor Tengah Utara dengan berbagai kelengkapan seni dan budaya itu, melewati ruas jalan Kartini, El Tari, A. yani dan P. B. Sudirman dan berakhir di lapangan Oemanu, depan kantor Bupati Timor Tengah Utara.
Pantauan kami, sepanjang jalan yang dilalui karnaval, ribuan masyarakat telah berdiri menanti dengan sabar, penuh antusias untuk menikmati berbagai atraksi, suguhan-suguhan yang cukup memikat dari keberagaman seni dan budaya, yang ditampikan dalam pakaian adat, seni musik maupun tarian, dari berbagai etnis di Indonesia, yang mendiami Kabupaten Timor Tengah Utara.
Etnis Ende, misalnya, sangat memukau dengan tarian Ja'i-nya, etnis Alor dengan tarian semangat perangnya, maupun etnis Bali dengan Legong topeng-nya. Demikian juga suku-suku lainnya, seperti Sabu, Belu, Rote, Batak, Jawa maupun suku-suku asli sekabupaten Timor Tengah Utara, juga turut menyemarakan parade seni budaya tersebut.

Tanggapan atas laporan dari Padang: Siswi-Siwi Kristen Pun Terpaksa Pakai Jilbab.

Tanggapan atas laporan dari Padang: Siswi-Siwi Kristen Pun Terpaksa Pakai Jilbab.
http://guntur.name/2008/04/12/laporan-dari-padang-siswi-siswi-kristen-pun-terpaksa-pakai-jilbab/#comment-3119

Saya pikir, memakai jilbab apa salahnya? Bila umat Muslim bisa, mengapa umat Kristen tidak? Apa persoalannya? Apakah iman seseorang itu tertuang pada busana yang ia kenakan? Busana hanyalah busana, bukan hati.
Cobalah umat Kristen memahami, apapun seperti apa busana itu-adalah tetap busana.
Apakah saya salah ketika mencermati isi injil-ajaran Kristus, lalu menyimpulkan bahwa Kristus mengajarkan pada Umat manusia untuk melaksanakan kehendak Allah dengan ROH dan KEBENARAN?Jadi bukan pada ritual, gedung gereja maupun busana.
Tidak lucu kalau anda yang mengaku Kristen tapi justru menjadi batu sandungan bagi orang lain (menimbulkan dosa bagi orang lain), antara lain dengan busana.
Tanks atas kesempatannya.

Kamis, 25 September 2008

Aksi pelemparan batu oleh FPI

Rekan AKKBB,
Hari ini, Kamis 25 September 2008, terjadi aksi pelemparan batu oleh FPI
kepada para aktivis AKKBB.
Peristiwa diawali dengan penolakan AKKBB untuk melanjutkan persidangan
karena tidak adanya jaminan keamanan kepada para saksi. Untuk menegaskan
sikap ini, kami melakukan Konferensi Pers. Setelah konfpress selesai dan
kami beranjak meninggalkan pengadilan, tiba-tiba dari arah berlawanan muncul
segerombolan FPI berlari dan melakukan aksi pelemparan batu. Sebagian rekan
AKKBB masuk dan berlindung di Gedung PELNI yang lokasinya tidak jauh dari
pengadilan.

BANSER NU yang bertugas menjaga keamanan AKKBB, mencoba bertahan. Namun
karena FPI terus melakukan pelemparan batu, akhirnya Banserp pun membalas
sehingga terjadi baku lempar antara mereka.

Polisi tidak bertindak tegas, padalah keadaan sudah genting. Akibatnya,
salah seorang anggota Banser yang bernama Hardi mengalami luka kepala
bocor. Santri Gus Nuril tersebut dilarikan ke R.S Tarakan oleh Hendrik dari
PBHI.

Demikian sekilas info AKKBB
Mohon dukungan rekan-rekan.

Salam,
ICRP

Minggu, 21 September 2008

Himbauan kriminalisasikan pers, Kapolda Sulsel mempolisikan wartawan di kantornya.

Email yang saya terima hari ini, sabtu (20/9), juga seperti yang diberitakan koran daerah Tribun dan beberapa media lainnya, di Makasar, bahwa pemeriksaan terhadap Upi Asmaradhana telah dilakukan di Markas Polda Sulselbar, yang berlokasi di jalan Perintis Kemerdekaan, sekitar km 16, Makasar, Rabu (17/9).
Pemeriksaan yang berlangsung sekitar lebih dari 6 jam itu, dimulai sekitar pukul 11.00 wita hingga saat menjelang detik-detik berbuka puasa.
Dilaporkan bahwa pemeriksaan terhadap Ketua Koordinator Koalisi Jurnalis Tolak Kriminalisasi, yang dilakukan pada salah satu ruangan di lantai satu gedung Reskrim Polda Sulsel itu di dampingi sejumlah advokat dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Kota Makasar, yang sehari sebelumnya bersama Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (16/9), telah menggelar jumpa pers dengan pernyataan tekad dan kesediaan siap membantu, mulai dari pemeriksaan kepolisian hingga putusan pengadilan.
Pemeriksaan yang hanya diberi kesempatan istirahat saat waktu salat lohor dan asar itu, juga didampingi sejumlah jurnalis dari berbagai media cetak dan elektronik yang tergabung dalam Koalisi Jurnalis Tolak Kriminalisasi Pers Makassar.
Upi, yang juga tercatat sebagai anggota Aliansi Jurnalis Indepen (AJI), masih diperiksa sebagai saksi terkait konflik jurnalis Makassar dengan Kapolda Sulawesi Selatan, Irjen Polisi Sisno Adiwinoto, yang telah telah melaporkan Upi atas tuduhan penghasutan dan pemfitnahan sebagaimana yang diatur dalam KUHP, pasal 160, pasal 311 ayat 1 dan pasal 317 ayat 1.
Seperti diberitakan bahwa pelaporan itu sendiri berawal dari aksi-aksi Koalisi Jurnalis Tolak Kriminalisasi Pers Makassar yang aktif menggelar demo dan membuat pernyataan sikap menentang atas pernyataan Kapolda Sulawesi Selatan, Irjen Polisi Sisno Adiwinoto, yang dalam beberapa kesempatan didepan umum, mengatakan bahwa jika publik merasa dirugikan oleh pemberitaan media massa, tak perlu dibalas dengan surat pembaca, melainkan bisa langsung dilaporkan ke polisi dan dipidana.
Sedangkan tuntutan aksi perlawanan koalisi itu sendiri berdasar pada
UU No. 40 thn. 99 tentang Pers, yang telah mengatur tentang ketentuan pidana, hak tolak, koreksi maupun hak jawab, yang lalu melaporkan Sisno ke Kompolnas, DPR RI, Komnas HAM, Dewan Pers, dan ke Presiden RI SBY melalui juru bicaranya Andi Alifian Mallarangeng.

(diolah dari berbagai sumber dan email mohon dukungan forum Komnas HAM)

http://kabarindonesia.com/berita.php?pil=14&dn=20080920111221